Pamekasan, 6 Agustus 2025 — Ribuan warga dari berbagai penjuru Pamekasan turun ke jalan dan mengepung Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan. Suasana memanas saat massa dengan lantang menuntut kejelasan atas mandeknya realisasi pokok-pokok pikiran (pokir) dan dana hibah yang tak kunjung cair.
Aksi besar ini menjadi sorotan tajam publik. Para demonstran menuduh pihak eksekutif mencoba mengambil alih program-program pokir yang menjadi ranah legislatif—sebuah langkah yang mereka anggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sistem demokrasi lokal.
Suhairi, Koordinator Lapangan aksi, tampil lantang di depan ribuan massa.
“Ini bukan hanya tentang pokir, ini tentang etika kekuasaan. Eksekutif hendak menggerogoti hak legislatif, dan dana hibah untuk masjid senilai Rp100 juta justru dibiarkan menggantung tanpa kejelasan. Sampai hari ini, belum ada satu tanda tangan pun dari Bupati,” tegasnya.
Lebih jauh, Suhairi menuding bahwa dana hibah tersebut berpotensi telah dialihkan secara sepihak, atau bahkan dikorbankan untuk kepentingan lain yang tidak transparan. Ketidakhadiran Bupati Pamekasan dalam aksi ini, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa rumor tersebut bukan isapan jempol.
“Kalau beliau tidak hadir di tengah rakyatnya hari ini, maka publik berhak curiga. Jangan sampai ini menjadi skandal pengingkaran janji politik,” tambahnya penuh nada kecewa.
Suhairi, yang mengaku menjadi bagian dari barisan pendukung Bupati saat Pilkada lalu, merasa dikhianati. Ia menyayangkan sikap asisten bupati yang turun menemui massa namun tidak mampu memberikan penjelasan memadai.
“Kami datang bukan untuk gaduh. Tapi kalau suara kami terus diabaikan, jangan salahkan bila amarah rakyat tak lagi bisa dibendung,” ujarnya dengan sorak dukungan dari massa.
Massa memberi ultimatum satu minggu kepada Bupati Pamekasan untuk memberi klarifikasi dan mengambil tindakan nyata. Jika tidak, mereka bersumpah akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Bupati. Namun, satu hal yang pasti—kepercayaan publik kini tengah berada di ujung tanduk. (Moh.Kurdi)
