Pamekasan, 14 Agustus 2025 – Kerusakan jalan yang sudah berlangsung puluhan tahun di pelosok Pamekasan, Jawa Timur, akhirnya memantik aksi swadaya warga. Di tengah lambannya respon pemerintah, masyarakat di beberapa desa memilih untuk bergotong royong memperbaiki infrastruktur vital yang rusak parah.
Salah satu contoh mencolok terjadi di Dusun Pakes dan Mor Oloh, Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan. Jalan utama di wilayah ini sudah lebih dari dua dekade tidak pernah tersentuh perbaikan, membuatnya sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Kurang lebih 20 tahun jalan di desa ini tidak pernah diperbaiki, baik oleh Pemkab, Pemprov, maupun pemerintah pusat,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keprihatinan serupa disampaikan oleh Zainal Erdogan Jr., Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat Bersatu (GEMPUR). Ia menyoroti ketimpangan perhatian pemerintah yang dinilai lebih fokus membangun kawasan perkotaan dibanding desa.
“Ini kejanggalan yang patut ditelusuri. Banyak kebijakan yang tajam ke bawah, tumpul ke atas. Contohnya pemavingan di rumah istri muda bupati di Patemon, yang dijelaskan Ketua DPRKP masuk nominasi khusus karena termasuk wilayah kota. Sementara kecamatan lain seolah diabaikan. Secara undang-undang, ini jelas salah,” tegasnya.
Di tengah kekecewaan tersebut, warga Desa Rek Kerrek tak tinggal diam. Mereka menggalang dana dan tenaga secara sukarela demi memperbaiki jalan yang menjadi urat nadi perekonomian desa. Aksi gotong royong ini tidak hanya menjadi solusi sementara, tetapi juga bentuk protes moral terhadap ketidakpedulian pemerintah.
Masyarakat berharap, pemberitaan dan penyampaian aspirasi ini dapat mendorong Pemkab Pamekasan, Pemprov Jawa Timur, dan pemerintah pusat untuk segera turun tangan. Perbaikan infrastruktur desa dinilai sangat penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan membuka akses menuju kota.
