PAMEKASAN, 5 Agustus 2026 – Para ulama dan kiai Nusantara banyak menulis serta menyebarkan karya tulis dalam berbagai bidang ilmu secara sistematis. Praktik ini umumnya mulai tercatat dan berkembang sekitar abad ke-17 M. Akan tetapi, hingga saat ini sebagian besar karya tersebut belum dipublikasikan secara luas dan belum banyak dipelajari oleh masyarakat. Karya-karya itu umumnya baru dapat diakses oleh pihak-pihak tertentu, misalnya para pemerhati atau santri yang memiliki kemampuan serta jaringan untuk membaca dan mengumpulkannya.
Lembaran naskah yang mulai rapuh, atau yang terhimpun dalam satu bindel/manuskrip, kini perlahan dapat dikenali bentuk dan isinya melalui program seperti Nahdlatut Turots. Program ini secara bertahap menghimpun kitab-kitab karya ulama dan kiai Nusantara. Jejak karya ulama Nusantara tidak hanya tersimpan di perpustakaan nasional maupun perpustakaan daerah, tetapi juga dijaga secara turun-temurun di lingkungan tempat karya tersebut lahir atau pernah dikaji. Bahkan, sebagian karya ulama Indonesia juga pernah memberi kontribusi penting bagi perkembangan industri percetakan Islam di Timur Tengah.
Nahdlatut Turots berfokus pada upaya yang sistematis untuk merawat, mendigitalisasi, serta menerbitkan kembali manuskrip warisan ulama pesantren yang tersebar di berbagai wilayah. Gerakan ini bukan sekadar bentuk nostalgia keilmuan, melainkan strategi penyelamatan aset intelektual ulama dan kiai Nusantara yang berperan penting dalam pembentukan tradisi keilmuan dan peradaban keislaman.
Koordinator Nahdlatut Turots, Lora Usman Hasan Al-Akhyari, menyampaikan bahwa gerakan ini bertujuan melakukan revitalisasi tradisi intelektual pesantren melalui digitalisasi, pengarsipan, dan kajian kritis terhadap manuskrip klasik yang diwariskan ulama terdahulu. Pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Tambak beras, Jombang, gerakan ini juga akan menampilkan banyak manuskrip karya ulama dan kiai Nusantara. Sekitar 60 pesantren akan tergabung dalam gerakan Nahdlatut Turots, termasuk arsip dan manuskrip yang dimiliki oleh organisasi Nahdlatul Ulama sendiri (4/8/2026).
Pada kesempatan lain, koordinator Komunitas Pegon “Ayong Notonegoro” yang juga terlibat dalam Nahdlatut Turots menjelaskan bahwa gerakan ini akan turut mengisi Muktamar 35 NU di Tambak beras melalui rangkaian kegiatan pemuliaan turots dengan tajuk “Turots di Muktamar”. Rangkaian kegiatan tersebut mencakup seminar internasional, pameran turots, klinik turots, daurah tahqiq kitab muassis NU, mubes pegiat turots, hingga puncaknya berupa ijazahan sanad ilmiah dari para masyayikh NU (5/8/2026).
Sehubungan dengan pelaksanaan muktamar tersebut, hendaknya muncul sikap optimistis terhadap tradisi sanad keilmuan ulama dan kiai Nusantara. Semangat ini selaras dengan Nahdlat al-Turots yang lahir dari partisipasi kalangan pesantren. Sejak lama, kita mengenal ulama dan kiai Nusantara—yang sebagian besar berasal dari tradisi pesantren—sebagai figur yang memiliki pengetahuan mendalam, akhlak mulia, serta kebijaksanaan dalam merespons tantangan zaman. Mereka juga memiliki komitmen tidak hanya pada aspek keagamaan, tetapi juga pada aspek kebangsaan.
Sejak Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak beras dinyatakan sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, kesiapan juga terus dipertegas oleh seluruh Dzurriyah Pondok Tambak beras. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Yayasan PP Bahrul Ulum sekaligus Ketua Panitia Lokal, KH. Abdur Rozaq Sholeh (Gus Rozak). Beliau segera melakukan koordinasi dengan setiap unsur di lingkungan pesantren maupun di Kabupaten Jombang agar pelaksanaan muktamar berlangsung lancar, sukses, dan bermartabat.
