Jombang, 17 Agustus 2026- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf membedah pemikiran mendalam serta rekam jejak geopolitik pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, dalam ajang bedah buku di Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang.
Suasana auditorium Unwaha pada Sabtu (15/8/2026) malam itu terasa sangat khidmat ketika ratusan pasang mata tertuju pada langkah pimpinan tertinggi PBNU tersebut menuju panggung utama.
Sosok yang akrab disapa Gus Yahya ini membawa misi penting untuk mengajak seluruh komponen jam’iyah menengok kembali akar sejarah dan fondasi perjuangan para muassis.
Berbalut kemeja putih dan bawahan gelap, Gus Yahya membuka pidatonya dengan santun melalui salam pembuka serta apresiasi tinggi kepada jajaran panitia penyelenggara.
Agenda bedah buku karya H Abdul Mun’im DZ setebal 262 halaman terbitan Unwaha Press 2024 tersebut menjadi pintu masuk utama untuk menguraikan rekam jejak pergerakan KH Abdul Wahab Hasbullah.
Sejarah mencatat bahwa kematangan berpikir Mbah Wahab tidak lepas dari masa penempaan dirinya saat menimba ilmu di Makkah sekaligus aktif dalam organisasi pergerakan Sarekat Islam (SI).
Sepulang dari Tanah Suci, gagasan besar dan semangat kebangsaan yang diusung Mbah Wahab langsung diwujudkan secara riil lewat berbagai langkah taktis dan strategis.
Langkah terobosan awal dimulai pada 1916 ketika Mbah Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan sebagai wahana persemaian pemikiran agama dan pendidikan kebangsaan bagi generasi muda.
Nahdlatul Wathan kelak berkembang pesat dari sekadar ruang diskusi menjadi jaringan lembaga pendidikan madrasah yang mengakar luas di Jawa Timur hingga Jawa Barat.
Perjuangan berlanjut pada 1918 saat Mbah Wahab menggerakkan Nahdlatut Tujjar atau Gerakan Pedagang untuk menghimpun potensi para saudagar Surabaya demi kemandirian ekonomi umat.
Pada tahun yang sama, Mbah Wahab menginisiasi pembentukan Tashwirul Afkar sebagai wadah pertukaran gagasan strategis bagi para kiai, guru, dan cendekiawan muslim kala itu.
Ketiga pilar utama—Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Tashwirul Afkar—itulah yang kemudian menyatu menjadi fondasi paling menentukan dalam pengesahan berdirinya NU pada 1926.
Pemaparan historis tersebut disampaikan Gus Yahya dengan artikulasi yang amat jernih dan tegas hingga membakar semangat ribuan akademisi, santri, serta pengurus NU yang hadir.
Salah satu poin paling krusial yang disoroti Gus Yahya adalah pembacaan geopolitik Mbah Wahab terkait dinamika Islam global pasca-runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada dekade 1920-an.
Arsip sejarah merekam bahwa Mbah Wahab sejatinya mendapatkan undangan khusus untuk menghadiri Muktamar Khilafah yang digelar di Arab Saudi pada era transisi tersebut.
Namun, alih-alih bertolak ke Saudi, Mbah Wahab secara formal menyatakan batal berangkat dengan alasan yang saat itu disebutkan karena tertinggal kapal.
Gus Yahya menegaskan bahwa alasan “tertinggal kapal” tersebut sesungguhnya merupakan bentuk diplomasi dan penolakan yang dikemas secara amat halus khas ulama Nusantara.
Mbah Wahab secara tegas tidak menyetujui jika Arab Saudi dijadikan sebagai pusat atau basis khilafah baru pengganti penguasa Turki Utsmani.
Sikap kritis tersebut dilandasi penilaian objektif Mbah Wahab bahwa paham Wahabisme yang dominan di Hijaz memiliki sanad keilmuan yang terputus (muqathi’) dari rantai peradaban Islam.
Pandangan itu bertolak belakang dengan tradisi keislaman Nusantara yang memegang teguh sanad keilmuan bersambung (muttashil) di atas pijakan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Keputusan Mbah Wahab melepaskan momentum muktamar di Saudi dan berfokus membangun gerakan di dalam negeri membuktikan ketajaman visinya terhadap iklim politik Timur Tengah.
Langkah pendirian Nahdlatul Ulama bersama para kiai di tanah air menjadi sebuah peristiwa besar yang mencatatkan tinta emas dalam panggung sejarah peradaban dunia.
Keunikan NU terletak pada karakter pergerakannya yang lahir dari tangan dingin para ulama di bawah cengkeraman penjajahan, bukan dari lingkaran penguasa politik atau militer.
Gus Yahya juga mengingatkan kembali wejangan sakral Mbah Wahab bahwa barang siapa yang bertekad merusak NU dari dalam, niscaya ia akan hancur oleh ulahnya sendiri.
Rangkaian kilas balik ini menegaskan bahwa lahirnya Nahdlatul Ulama bukanlah kejutan sejarah biasa, melainkan rancangan peradaban murni yang disiapkan matang untuk merespons geopolitik dunia.
