Merekam Doa dari Bumi Tambakberas Di Balik Melodi Spiritual Theme Song Muktamar NU ke-35

JOMBANG , 14 Agustus 2026 – Perhelatan Muktamar ke – 35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya diwarnai dinamika permusyawaratan organisasi.

Ajang tertinggi dalam struktur kepengurusan NU tersebut juga berhasil menyentuh relung sanubari warga nahdliyin melalui hadirnya theme song resmi perhelatan.

Lagu resmi berjudul “Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul” ini menarik perhatian publik karena dibalut dengan karya syair berbahasa Arab ber-metrum Bahr Wafir.

Secara musikalitas, karya ini sukses memadukan alunan instrumen khas Timur Tengah dengan nuansa kearifan lokal Nusantara yang kental.

Di balik indahnya lantunan lagu yang sarat pesan spiritual tersebut, terdapat peran dua sosok pengisi suara utama dari kalangan dzurriyah atau keturunan pendiri dan masyayikh.

Kedua sosok vokalis tersebut adalah Ning Lia Nikmah Wafira yang akrab disapa Ning Vira, serta Ning Majdah.

Bagi Ning Vira, keterlibatannya dalam pembawaan theme song Muktamar nasional merupakan momen berharga yang tak ternilai harganya.

Ia memandang kesempatan emas yang diberikan tersebut sebagai sebuah amanah sekaligus kehormatan besar bagi keluarga besar pesantren.

“Ini adalah amanah dan kebanggaan yang sangat berharga bagi kami. Lagu ini diharapkan menjadi pepiling (pengingat) agar Muktamar melahirkan pemimpin yang amanah, visioner, mandiri, serta terus berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah,” ujar Ning Vira, Kamis 13 Agustus 2026.

Ning Vira menambahkan bahwa karya spiritual ini hadir sebagai seruan hangat bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat tradisi dan membentengi bangsa.

“Mari kita bersama-sama menjaga agama, merawat bangsa, dan meneruskan perjuangan para masyayikh serta pendahulu NU,” ungkapnya.

Perasaan haru dan tidak menyangka juga dirasakan oleh Ning Majdah saat dipercaya mengisi vokal pada perhelatan akbar tingkat nasional ini.

Menurutnya, kesempatan tersebut merupakan bentuk dedikasi dan ungkapan rasa syukur mendalam sebagai bagian dari dzurriyah.

“Rasa bahagia dan tidak menyangka bisa dipercaya untuk acara sebesar Muktamar nasional ini. Ini adalah bentuk rasa syukur dan kontribusi kecil kami dari dzurriyah untuk Nahdlatul Ulama,” kata Ning Majdah.

Meski hasil akhirnya terdengar matang dan megah, proses pengerjaan di balik layar rupanya berlangsung sangat cepat dan dinamis.

Seluruh proses pengambilan vokal di studio recording bahkan berhasil dirampungkan hanya dalam rentang waktu satu hingga dua jam.

Ning Vira telah mempelajari materi lagu lebih awal, sedangkan Ning Majdah baru menerima serta mendalami materi tersebut tepat pada hari rekaman berlangsung.

Namun, berkat profesionalisme dan daya adaptasi yang tinggi, seluruh proses perekaman nada dan bait syair berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Salah satu bait kunci dalam Manzhumah Al-‘Audah ilal Ushul melantunkan ungkapan bernuansa dalam: “Bi farhatin, bi hamdillah, bi syukrillahi, wa ridwanillah.”

Ungkapan tersebut bukan sekadar deretan kata Arab yang indah, melainkan manifestasi nyata dari nilai dasar warga Nahdliyin.

Bait itu menggambarkan langkah yang dipenuhi kegembiraan dalam menerima amanah, senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, serta menyandarkan segala ikhtiar demi meraih keridaan-Nya.

Lagu resmi ini pada akhirnya tidak sekadar hadir sebagai pelengkap perhelatan Muktamar NU ke-35 di Tambakberas.

Di dalam bait-bait lagunya tersimpan tumpukan doa, harapan, dan komitmen spiritual dari Bumi Tambakberas untuk Nahdlatul Ulama serta Indonesia.

“Semoga seluruh rangkaian acara Muktamar berjalan lancar, penuh hikmah, membawa keberkahan, dan mendapat keridaan Allah SWT,” pungkas Ning Majdah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *